Di wajah cantik tergurat pucat,
Tubuh rapuh namun tetap anggun,
Suara nyaris lenyap saat terdengar,
Sentuhan lembut memanggil luka lama.
Dalam kegelapan yang indah kau menari,
Dalam kesunyian kau mencoba bernyanyi,
Menatap malam tanpa warna
Dengan mata yang mencari makna.
Takdir terasa kejam,
Namun indah dalam sisa asa.
Kau tersenyum kau tertawa
Seakan merangkul pedihnya dunia.
Bunga itu layu, lalu gugur;
Penglihatan buram, tertutup kabut,
Terpesona pada suara yang memikat jiwa,
Raut getir mengiris sukma.
Kucoba memelukmu
Namun perlahan,
Kau tak lagi berjiwa.
Teruntuk Bunga Layu.
Tinggalkan komentar