Pena masih berbisik, perlahan mengukir pada tinta yang mengalir sunyi, seolah setiap goresan adalah napas terakhir dari sebuah kisah yang panjang. Garis hitam ini, yang terbentang di hadapan mata, bukanlah sebuah pembuka kisah yang baru, bukan pula gerbang menuju awal yang rindu. Melainkan sebuah perangkap waktu yang kau sebut "Akhir," sebuah titik henti yang tak terhindarkan, namun penuh misteri. Pantaskah kau mempercayainya, pada suara tanpa nada itu, yang hanya membawa hening dan kehampaan, yang menjanjikan ketiadaan?
Air mata yang telah tercipta dan jatuh, membasahi lembaran takdir yang kusut, kini memaksa keadilan yang tak berjiwa untuk memeluknya, untuk menerima setiap tetes kepedihan yang telah tertumpah. Setiap tetesan adalah pengakuan, sebuah permohonan yang tak terucap. Ia, yang tak bernyawa, yang tak terbelenggu oleh takdir yang telah digariskan, justru menyulam kasih dari benang-benang rindu yang halus, benang-benang yang ditarik dari kedalaman jiwa yang paling sunyi.
Semua itu hanya untuk satu nyawa, satu jiwa yang berani menggenggam api dalam tangan berlumpur penyesalan. Api itu membakar jiwa, namun juga menerangi jalan, mencari cahaya di tengah kegelapan yang pekat, sebuah cahaya yang mungkin hanya ilusi, namun cukup untuk terus melangkah. Di ambang "Akhir" ini, bukan kehancuran yang menanti, melainkan sebuah transformasi. Sebuah kesempatan untuk memahami bahwa setiap akhir adalah bagian dari siklus abadi, tempat cerita lama meredup agar melodi baru dapat dimulai, bahkan dalam keheningan yang paling dalam.
Tinggalkan komentar