Adakah yang benar-benar berakhir.
Atau hanya langkah berhenti untuk bertanya.
Harapan yang terjaga, dan kenyataan tanpa dusta.
Kau berpandang pada Cermin Air dalam diam.
Tak ada perlawanan, karena sejak awal memang tidak pernah ada.
Entah itu makna, kemungkinan, dan hal apapun yang lainnya.
Tak ada upaya untuk menghitung semuanya, selain membiarkannya terjadi.
Dan hanya itu yang ada, terlepas dari arah mata ini.
Layaknya matahari, yang membakar atau menghidupi.
Mendekat jika ingin hangat, dan lebih dekat jika ingin terbakar.
Dan terpantul oleh Cermin Air mahluk yang berpandang diri.
Ada karena semua dan tidak ada karena semua juga.
Tinggalkan komentar