beranda esai puisi prosa makalah opini sunda
MANUSIA DAN MANUSIA

Aku mendengarnya! Jerit manusia yang terhimpit napas keserakahan, gema pilu dari sebuah peradaban yang tersesat dalam ambisi. Suara-suara itu mengoyak tirai keheningan malam, membawa serta beban dosa yang tak terhitung. Dalam ruang gema itu, ruang yang memantulkan ayat-ayat palsu dan janji-janji hampa, teriakan kemunafikan itu bersarang dalam bait-bait suci, meracuni setiap kata yang seharusnya membawa damai. Mereka membakar dan menyiksa pendengaranku yang lelah, seolah ingin memadamkan setiap percikan harapan yang tersisa.

Aku melihatnya! Mereka… mengubur nurani dengan dalih kebenaran yang diputarbalikkan, menutupi kebusukan hati dengan jubah kesucian palsu yang berkilauan. Keyakinan yang kupegang teguh, yang seharusnya menjadi pelita di kegelapan, malah menjadi obat penenang yang mematikan bagi mereka yang terbutakan oleh ilusi kekuasaan dan fatamorgana duniawi. Peradaban ini, dengan segala kemajuannya, justru menggiling rasa, menghancurkan empati, mengubahnya menjadi debu simbolis angka, nilai-nilai materi yang kosong dan tak bermakna.

Di panggung dunia yang megah ini, ego tersungkur, namun bukan dalam penyesalan. Ia menjilati remah-remah kepuasan belaka, sisa-sisa dari kemenangan semu yang diraih dengan mengorbankan jiwa. Mereka lupa akan esensi sejati keberadaan, tentang keindahan dalam kesederhanaan, tentang kekuatan dalam kebersamaan. Mata mereka terpaku pada bayangan fatamorgana, mengejar ilusi yang tak pernah bisa digenggam, sementara dunia di sekitar mereka perlahan runtuh, diiringi jeritan yang tak pernah mereka dengar. Dan aku, hanya bisa berdiri, menyaksikan, dengan telinga yang terus menangkap gema pilu dari kehampaan yang mereka ciptakan.

Tinggalkan komentar