Di bawah gugusan
bintang dalam malam yang tenang, kita pertama kali bertemu, mengukir percakapan
di hamparan waktu yang terus mengalir. Kala itu, kepolosan bersemayam jelas di
matamu, dan kita melangkah ragu, diselimuti tanda tanya yang tak terucap. Sejak
saat itu, benang-benang waktu mulai menganyam cerita kita, tanpa kita sadari.
Pada momen-momen
selanjutnya, kita kerap saling memandang, namun bahasa bisu yang membeku selalu
menguasai ruang di antara kita. Suara terbeku di kerongkongan, sebab
keheninganlah yang merangkul erat, menjadi saksi bisu setiap jeda. Kau, di
sisiku, tersenyum dan bercanda dengan dunia seolah tiada derita, sementara aku,
hanya bisa terpaku pada bayang wajahmu, terperangkap dalam pesonamu yang tak
terlukiskan.
Dalam lamun yang tak
berkesudahan, angan-angan terus menggusur realita, menyadarkanku betapa semua
ini hanyalah sekadar mimpi yang berputar hampa. Waktu, sang saksi bisu abadi,
merekam setiap hening, setiap tatapan, saat dirimu dan aku terjalin dalam benang
bisu yang tak pernah terdefinisikan, sebuah ikatan yang tak pasti.
Namun, takdir tak
terelakkan. Hingga akhirnya, dalam detik sunyi terakhir, hanya fatamorgana hati
yang tersisa di relung jiwa. Waktu terus berlalu, tanpa ampun, membawa kita
pada perpisahan. Dirimu terus bersinar, memancarkan keindahan yang tak tergapai
oleh tanganku, dan ironi pun berbisik dalam diam, mengubah pertemuan singkat
itu menjadi rindu yang begitu getir, entah mengapa, terasa patut ditertawakan.
Di antara anyaman waktu dan pesonamu yang abadi, kita terus menari langkah ragu, terpisah oleh jarak yang tak terjembatani. Ini adalah bukti nyata bahwa dalam keheningan yang sama yang dulu menyatukan kita kini tersimpan keindahan yang memudar dan lubang kehampaan yang tak terisi. Begitulah kisah kita, seperti Waktu dan Dirimu.
Di antara anyaman waktu dan pesonamu yang abadi, kita terus menari langkah ragu, terpisah oleh jarak yang tak terjembatani. Ini adalah bukti nyata bahwa dalam keheningan yang sama yang dulu menyatukan kita kini tersimpan keindahan yang memudar dan lubang kehampaan yang tak terisi. Begitulah kisah kita, seperti Waktu dan Dirimu.
Tinggalkan komentar