beranda esai puisi prosa makalah opini sunda
WAKTU DAN DIRIMU
Di bawah gugusan bintang dalam malam yang tenang, kita pertama kali bertemu, mengukir percakapan di hamparan waktu yang terus mengalir. Kala itu, kepolosan bersemayam jelas di matamu, dan kita melangkah ragu, diselimuti tanda tanya yang tak terucap. Sejak saat itu, benang-benang waktu mulai menganyam cerita kita, tanpa kita sadari.

Pada momen-momen selanjutnya, kita kerap saling memandang, namun bahasa bisu yang membeku selalu menguasai ruang di antara kita. Suara terbeku di kerongkongan, sebab keheninganlah yang merangkul erat, menjadi saksi bisu setiap jeda. Kau, di sisiku, tersenyum dan bercanda dengan dunia seolah tiada derita, sementara aku, hanya bisa terpaku pada bayang wajahmu, terperangkap dalam pesonamu yang tak terlukiskan.

Dalam lamun yang tak berkesudahan, angan-angan terus menggusur realita, menyadarkanku betapa semua ini hanyalah sekadar mimpi yang berputar hampa. Waktu, sang saksi bisu abadi, merekam setiap hening, setiap tatapan, saat dirimu dan aku terjalin dalam benang bisu yang tak pernah terdefinisikan, sebuah ikatan yang tak pasti.

Namun, takdir tak terelakkan. Hingga akhirnya, dalam detik sunyi terakhir, hanya fatamorgana hati yang tersisa di relung jiwa. Waktu terus berlalu, tanpa ampun, membawa kita pada perpisahan. Dirimu terus bersinar, memancarkan keindahan yang tak tergapai oleh tanganku, dan ironi pun berbisik dalam diam, mengubah pertemuan singkat itu menjadi rindu yang begitu getir, entah mengapa, terasa patut ditertawakan.

Di antara anyaman waktu dan pesonamu yang abadi, kita terus menari langkah ragu, terpisah oleh jarak yang tak terjembatani. Ini adalah bukti nyata bahwa dalam keheningan yang sama yang dulu menyatukan kita kini tersimpan keindahan yang memudar dan lubang kehampaan yang tak terisi. Begitulah kisah kita, seperti Waktu dan Dirimu.


Tinggalkan komentar