Mataku yang mati berhadapan dengan matamu yang hidup. Ada jarak yang tak terucap, seakan udara di antara kita pun menolak menjadi jembatan. Aku bertanya dalam hati, pantaskah aku menatapmu? Bahkan pertanyaan itu saja sudah terasa terlalu besar, terlalu berani, seakan aku sedang menodai cahaya dengan bayanganku sendiri.
Aku tahu, langkah kecil untuk mendekat pun bisa tampak sebagai arogansi. Dan aku bukan siapa-siapa untuk berani. Maka aku hanya berdiri, menelan getir, merasakan tubuhku kaku, lidahku kelu. Ingin berbicara, tapi suara yang lahir selalu pecah di dalam dada.
Kau penuh nyala. Aku hanya sisa-sisa di antara udara. Tapi tetap saja, dalam sekejap singkat itu, hangatmu sempat menyentuhku. Dan untuk sesaat, aku hampir percaya bahwa bahkan yang mati sekalipun, bisa merasa hidup kembali hanya dengan menatapmu.
Tinggalkan komentar