Manusia berjalan dengan segenggam angka dan rencana di kepalanya, seolah dunia adalah persamaan yang patuh pada logika. Tetapi diam-diam, di antara hitungan itu, mereka menyelipkan satu variabel liar bernama harapan. Ia tidak pernah pasti, tidak pernah stabil, namun diperlakukan seperti jawaban yang sudah dijamin dan menanti.
Maka ketika hasil akhirnya melenceng, manusia menyalahkan keadaan, padahal sejak awal merekalah yang memasukkan ketidakpastian ke dalam rumus hidupnya. Harapan yang rapuh itu tumbuh menjadi gunung-gunung ilusi, dan saat angin kenyataan datang, ia runtuh tanpa peringatan.
Barangkali benar, "Jangan berharap jika tak ingin kecewa."
Namun bagaimana bisa manusia hidup tanpa sedikit pun cahaya yang belum tentu nyata itu?
Harapan adalah celah antara luka dan keberanian
sebuah ruang kecil di mana kita tetap memilih berjalan, meski tahu tanahnya bisa runtuh kapan saja.
Tinggalkan komentar